Rakornas Pendidikan Hidayatullah

Pendidikan Integral Hidayatullah telah memiliki jaringan seluruh indonesia. Sekolah yang terdiri dari TK hingga SMA itu kini telah memiliki sekitar 50.000 siswa dari seluruh Indonesia.

Hidayatullah.com–Bertempat di Hall G Asrama Haji Surabaya, tanggal 5-8 Juni 2014 Hidayatullah mengadakan acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) IV Pendidikan Integralyang diikuti 160 peserta termasuk pelaku bidang pendidikan.

Dalam acara ini Hidayatullah menghadirkan tokoh-tokoh dan ahli, termasuk Lutfi Subagio, Direktur Mediatrust, praktisi public relation, tentang mengemas pendidikan agar lebih dikenal masyarakat juga Prof. Dr Imam Suprayogo, mantan UIN Malang.

Ahmad Syakir, salah satu peserta yang berasal dari Hidayatullah Timika mengaku senang mengikuti kegiatan ini, meski ia datang dari jauh dengan menempuh perjalanan berhari-hari.

“Acara yang mulai saya ikuti dari kemarin sampai hari ini luar biasa. Mulai dari pemateri dan ada spirit, semangat yang tinggi yang kita dapatkan,” ujar Abdul Syakir Kepala Sekolah SMP Integral Hidayatullah Timika, Papua.

Selain itu, kata dia, pengalaman tokoh-tokoh atau pembicara merupakan inspirasi baginya untuk mengembangkan daerahnya. Dan melakukan perubahan-perubahan yang lebih dahsyat, tuturnya lagi.

Zainal Mutaqin, salah satu panitia acara ini mengatakan, acara ini salah satu bagian dari konsolidasi pengelola pendidikan di Hidayatullah, termasu bagaimana bisa memecahkan masalah.

Sebagaimana diketahui, pendidikan Integral Hidayatullah telah memiliki jaringan seluruh indonesia. Sekolah yang terdiri dari TK hingga SMA itu kini telah memiliki sekitar 50.000 siswa dari seluruh Indonesia, ujar Zainal.

“Kemudian perguruan tingginya juga sudah mulai berkembang di daerah-daerah seperti di Surabaya, Batam, Jakarta, Balikpapan kemudian juga ada di Depok,” pungkasnya.didikan Integral Hidayatullah telah memilpendidikan Integral Hidayatullah telah memiliki jaringan seluruh.  Sekolah yang terdiri dari TK hingga SMA itu kini telah memiliki sekitar 50.000 siswa dari seluruh Indonesia.(hidayatullah.com)

 

 

 

 

 

Iklan

Jefry dan Rahasia Perjalanan Hidup Manusia

Oleh M. Anwar Djaelani,

Dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya

Wali Santri SMP Luqman Al Hakim-Azhar Fikri Muhammad (2009-2012)

 

Jefry Al-Bukhori berpulang pada Jum’at 26/04/2013. Banyak yang merasa kehilangan atas meninggalnya da’i yang baru berumur 40 tahun itu. Jenazahnya dishalati ribuan jamaah di Masjid Istiqlal Jakarta ba’da shalat Jum’at. Di hari-hari berikutnya, ada yang berharap agar segera muncul penggantinya.

Fakta itu menunjukkan bahwa Jefry dinilai sedikit-banyak telah ‘berbuat’ untuk Islam dan umat Islam. Memang, setidaknya untuk sebagian orang, kiprah dakwah Jefrry tergolong sukses terutama untuk kalangan muda dan selebriti. Maka, untuk sebuah pembelajaran, menarik jika ada yang bertanya: Siapa Jefry? Seperti apa perjalanan hidupnya?

 

Pernah Kelabu

Jefry Al-Bukhori (belakangan setelah aktif berdakwah akrab disapa Ustadz Jefry, disingkat Uje) adalah da’i muda yang ‘bersinar’. Wajah dan suaranya sering menghiasi televisi. Bahasa yang dipakainya mudah dipahami, terutama untuk anak-anak muda.

Sejak memulai dakwah sampai dia meninggal, tak ada kontroversi atas kehidupan pribadinya. Hal itu berbeda dengan masa lalunya, yang suram. Cermatilah! Sedari kecil, orang-tua Jefry berusaha memberikan pendidikan Islam yang kuat. Untuk itu -antara lain- dengan menyekolahkannya di pesantren. Sayang, Jefry dikenal sebagai santri yang nakal. Dia pernah kabur dari pesantren, hanya untuk main dan nonton bioskop.

Lalu, Jefry dipindahkan ke Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Di sekolah itu, malah kenakalannya bertambah. Di saat kuliah, waktunya lebih banyak untuk hal-hal lain seperti main bilyar di seberang kampusnya. Alhasil, studinya tak selesai.

Pendek kata, dulunya Jefry itu nakal. Dia pernah menjadi pemakai narkoba. Dia pernah akrab dengan dunia malam dan bahkan pada 1991 menjadi dancer di salah satu club.

Titik balik Jefry terasa saat dia berumrah bersama ibu dan kakaknya. Dia bertobat. Selepas umrah, dia mendapat amanah dari kakak tertuanya -Abdullah Riyad- untuk melanjutkan dakwah di Jakarta. Hal ini karena si kakak pindah ke Singapura, menjadi Imam Besar di Masjid Haji Mohammad Soleh.

Saat berdakwah kali pertama di sebuah Mesjid di Mangga Dua, Jakarta, teks naskah Jefry dituliskan oleh sang istri (wanita asal Semarang dan pernah menjadi ‘gadis sampul’ sebuah majalah remaja). Seusai berceramah, panitia membekalinya dengan ‘uang transport’ yang tak sampai Rp 50 ribu. Rezeki itu langsung diberikan Jefry kepada istrinya seraya berkata sambil terisak-isak: “Inilah rezeki halal pertama yang saya kasih ke kamu.”

Jefry terus melangkah di jalan dakwah. Bahasa penyampaiannya yang mudah dipahami dan kadang diperkaya dengan nasihat yang sebagian terbit karena ‘diilhami’ oleh apa yang pernah dialaminya di masa lalu, menjadikan dakwah Jefry bisa diterima di berbagai kalangan.

 

Balada ‘Mantan’

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, kisah hidup Jefry menambah contoh orang-orang yang berhasil keluar dari masa lalunya yang ‘gelap’ dan menggantinya dengan masa ‘terang’. Memang, asal kita tak putus asa, seberat apapun ujian, insya-Allah akan ada jalan keluar. “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus-asa dari rahmat Allah’. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.  Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az-Zumar [39]: 53).

Di zaman Nabi Muhammad SAW, setidaknya dua contoh berikut ini akan semakin menguatkan kebenaran ‘seloroh’ di tengah-tengah masyarakat bahwa “Lebih baik menjadi mantan preman –orang nakal, orang ‘rusak’- ketimbang menjadi mantan kiai”.

Contoh pertama, lihatlah Umar bin Khaththab RA. Umar dijuluki oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Al-Faruq (orang yang bisa memisahkan antara yang haq dengan yang bathil). Bahkan, pernah Nabi SAW bersabda: “Seandainya ada Nabi sesudahku, maka dia adalah Umar bin Khaththab” (HR Tirmidzi dan Ahmad). Tapi, bagaimana masa lalu Umar?

Di masa jahiliyah, Umar pernah mengubur putrinya sendiri hidup-hidup karena ketika itu dianggap aib jika memiliki anak perempuan. Lalu, ketika Nabi SAW menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar-lah yang bereaksi sangat keras melawannya. Segelintir umat Islam pada saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan. Hal ini karena Umar memang mempunyai reputasi bagus sebagai ahli strategi perang dan sekaligus seorang prajurit yang sangat tangguh. Umar juga yang paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut Nabi SAW. Bahkan, pada puncak kebenciannya terhadap Islam, Umar pernah mencoba membunuh Nabi SAW.

Contoh kedua, lihatlah Abu Sufyan bin Harits. Dia saudara sepupu Nabi SAW. Dia pernah disusukan oleh ibu susu Nabi SAW, Halimatus Sa’diyah. Tapi, sekitar 20 tahun dilaluinya dalam kesesatan yaitu memusuhi Islam. Selama itu dia menjadi tulang punggung Quraisy, menggubah syair-syair untuk menjelekkan Nabi SAW. Dia juga selalu mengambil bagian dalam perang melawan Islam.

Hidayah Allah datang. Abu Sufyan bersyahadat di depan Nabi SAW. Mulai detik itu, Abu Sufyan tekun beribadah dan rajin berjihad. Dengan cara itu dia ingin menghapus masa lalunya yang gelap dan mengejar ketertinggalannya selama ini. Di peperangan-peperangan yang terjadi setelah Pembebasan Mekkah, dia selalu ikut bersama Rasulullah SAW. Dia sangat ingin berjuang fi-sabilillah sampai menemui syahid dan jika bisa syahidnya di hadapan Rasulullah SAW. Tapi, Allah berkehendak lain sekalipun peluang untuk itu pernah diperolehnya yaitu di Perang Hunain.

Di kemudian hari Abu Sufyan meninggal dengan ‘cara biasa’ tapi indah, karena seolah-olah dia tahu ajal akan menjemputnya. Kala itu -tiga hari sebelum meninggal- dia menggali liang lahat di Pemakaman Baqi’, tak jauh dari Masjid Nabawi. Ketika ditanya, Abu Sufyan menjawab: “Aku sedang menyiapkan kuburku”.

 

Jangan Lalai

Kisah orang-orang yang bermasa lalu kelam tapi kemudian -dengan hidayah Allah- lalu tampil menjadi pembela Islam sangat banyak. Semua kisah tersebut bisa menjadi pelajaran yang baik bagi kita. Misalnya, kita jangan pernah lalai untuk terus berdoa: “Duhai Allah -Dzat Pembolak-balik hati- tetapkanlah kami selalu berada di dalam agama-Mu yang haq”.  []

Bacalah!

Iqra’ adalah ayat pertama seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam Al Quran dengan arti jelas : BACALAH!

Bagi santri Pesantren Hidayatullah Surabaya budaya membaca menjadi keseharian. Di awali dengan membaca Al Quran baik dengan mushaf maupun menghafal di pagi hari.

baca di perpus1baca di perpus2 baca mading

Pada saat jam istirahat ketika sebagian menuju ke kantin sekolah ada pula santri yang menuju perpustakaan. Sebagai pengisi waktu istirahat  dapat dimanfaatkan untuk bermain ke perpustakaan yang menyajikan hidangan buku ilmu pengetahuan. Koleksi Ensiklopedia laris manis di baca. Ada yang asyik mendiskusikan teori Darwin yang jelas berbenturan dengan pelajaran agama Islam. Masalah asal muasal manusia dari monyet atau nabi Adam. Seru dan lucu karena cara berlogika anak-anak masih kentara. Hasilnya, rupanya mereka sudah banyak mendapat pelajaran diniyah, jadi mereka tidak menerima teori Darwin sebagai kebenaran. Mereka lebih mengimani Allah.

Ada pula aktifitas melihat mading karya Organisasi Pelajar SMP Luqman Al Hakim yang mulai aktif membuat karya majalah dinding. Sebagian adalah hasil tulisan ustad dan grafis karya santri sendiri. Dalam mading ada banyak hal yang diekspresikan. kalau Anda tengok ada ekspresi kritikan terhadap guru yang disampaikan dengan cara yang cool.Memasang pose ala boysband dengan gambar manga ala komik jepang para guru dengan inisial Mr W, Mr A dan sebagainya yang penuh arti. Menimbulkan pertanyaan atau muhasabah.